Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Bambang Patijaya Dorong Produksi Baterai Lithium di Indonesia untuk Kurangi Impor

✍️ Elsa Novitasari 🕒 29 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate).
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). Foto: Dok. DHL

InfoNasabah.com - Komisi XII DPR RI menilai perkembangan hilirisasi pertambangan di Indonesia semakin meluas. Pengolahan mineral yang sebelumnya berfokus pada bahan mentah dan produk setengah jadi kini mulai merambah produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Perkembangan tersebut dinilai membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Golkar, Bambang Patijaya, menyebut industri baterai berpotensi menjadi game changer bagi perekonomian Indonesia. Selain mendorong pertumbuhan industri domestik, pengembangan sektor ini dinilai dapat memengaruhi pola konsumsi energi masyarakat.

Menurut Bambang, masyarakat yang selama ini menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) mulai mempertimbangkan kendaraan listrik berbasis baterai. Jika tren ini terus berkembang, ketergantungan terhadap BBM impor berpotensi berkurang, seiring meningkatnya pemanfaatan sumber daya dan energi yang dikembangkan di dalam negeri.

"Hari ini tiba-tiba nikel limonit (bijih nikel kadar rendah, untuk bahan baku baterai), 10 tahun lalu gak dilirik, gak ada yang minat, sekarang dicari karena pasar berkembang. Hilirisasi sudah berjalan, misalkan nikel, tidak semata-mata berkembang di sektor smelting, yang lain juga berkembang. Saat mereka berkembang, bisa dikembangkan untuk baterai, itulah game changer," kata Bambang dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk "Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan nikel kini tidak hanya berpusat pada industri peleburan (smelting), tetapi juga berkembang untuk mendukung rantai produksi baterai. Perubahan kebutuhan pasar membuat nikel limonit, yang sebelumnya kurang diminati, memiliki nilai ekonomi lebih besar sebagai salah satu bahan baku baterai.

DPR Dorong Pengembangan Baterai Lithium

Di tengah pengembangan baterai berbasis nikel, Bambang menilai Indonesia juga perlu memperkuat kemampuan memproduksi baterai berbasis lithium. Menurutnya, kebutuhan baterai lithium di dalam negeri masih bergantung pada pasokan impor sehingga diperlukan upaya untuk membangun kapasitas produksi domestik.

"Jenis baterai yang kita punya masih nikel base, kalau baterai lithium itu masih impor, sehingga harus ada pendorong agar Indonesia bisa memproduksi baterai lithium," ucapnya.

Bambang menambahkan, perkembangan teknologi akan terus memengaruhi pilihan sumber energi dan jenis kendaraan yang digunakan masyarakat. Karena itu, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan industri dalam negeri agar mampu mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.

"Dunia terus berkembang, seperti mesin yang terus berkembang, makanya kalau ada golongan Solar dan bensin, ke depan saya juga yakin akan tahu mana yang terbaik, kita sudah punya baterai berbasis nikel," ujarnya.

Ia turut menyoroti peluang pengembangan produksi baterai lithium seiring pertumbuhan pasar kendaraan listrik. Menurutnya, kapasitas produksi yang tengah dikembangkan dikabarkan mulai mencapai skala yang cukup besar.

"Walaupun di sini baterai lithium base masih dikembangkan, tetapi katanya sudah mulai produksi, setara 100.000 mobil listrik (EV) per tahun," jelasnya.

Hilirisasi Perlu Diiringi Penyelesaian Hambatan Industri

Bambang mengatakan, program hilirisasi berlangsung di berbagai sektor, mulai dari pertambangan hingga industri lainnya. Meski kecepatan pengembangan masing-masing sektor berbeda, ia menilai seluruh bidang tersebut menunjukkan perkembangan.

"Dari situasi yang ada, hilirisasi pada semua bidang, baik pertambangan maupun industri lainnya semua berjalan, ada yang speed tinggi, biasa saja, tapi semua berkembang. Tugas kita bagaimana menguraikan masalah yang ada," tandasnya.

Ia menekankan pentingnya mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai hambatan agar pelaksanaan hilirisasi dapat berjalan lebih optimal. Upaya tersebut mencakup pengembangan industri baterai berbasis nikel maupun lithium untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.

Penguatan industri baterai juga menjadi bagian dari transformasi sektor energi dan otomotif. Dengan kapasitas produksi yang terus dikembangkan, Indonesia berpeluang memperbesar kontribusi industri domestik dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral, pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk impor, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan baterai kendaraan listrik.

EN
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update