Kamis, 03 Sep 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Menaker: Mismatch Skill Tenaga Kerja Terjadi di Banyak Negara, Bukan Hanya Indonesia

✍️ Admin 🕒 02 Sep 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli Foto: Istimewa

Infonasabah.com — Ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri atau mismatch masih menjadi tantangan di dunia ketenagakerjaan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.

Menurut Yassierli, kebutuhan keterampilan di industri berubah dengan cepat seiring perkembangan teknologi, termasuk disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan otomasi.

"Kalau mismatch itu kan tantangan yang sudah lama, jadi tidak hanya di Indonesia, hampir di semua negara. Apalagi ketika di industri sendiri selalu terjadi perubahan terkait proses mereka, disrupsi AI, otomasi dan seterusnya. Jadi, memang di satu sisi tuntutan dari industri terkait dengan kebutuhan skill, pekerja itu semakin cepat berubah," kata Yassierli di kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

Yassierli mengatakan institusi pendidikan dengan dukungan pemerintah perlu terus melakukan penyesuaian agar kesenjangan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri dapat ditekan.

Pemerintah saat ini menjalankan sejumlah program prioritas, di antaranya pemagangan nasional dan pelatihan vokasi nasional.

"Dan di lain sisi kita harus dari institusi pendidikan dan tentu didukung pemerintah kita harus terus melakukan penyesuaian agar mismatch yang tadi disebutkan tidak terjadi.Program pemerintah pemagangan nasional, vokasi nasional, tujuannya mengurangi mismatch tadi. Pemagangan untuk lulusan perguruan tinggi, pelatihan vokasi untuk lulusan SMA dan SMK," bebernya.

Program pemagangan nasional menyasar 150 ribu lulusan perguruan tinggi. Sementara pelatihan vokasi ditujukan bagi 270 ribu lulusan SMA dan SMK.

Menurut Yassierli, kedua program tersebut disiapkan agar peserta tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga memperoleh pengalaman kerja yang dibutuhkan industri.

"Targetnya besar, walaupun belum menjawab jumlah total semua angkatan kerja yang baru. Jadi kalau pemagangan 150 ribu, vokasi 270 ribu, itulah yang sekarang bagaimana negara hadir. Kita ingin yang lulus SMK bisa meningkatkan kompetensi, lulusan perguruan tinggi mendapatkan pengalaman di tempat kerja," imbuhnya.

Yassierli menambahkan, evaluasi sementara menunjukkan perkembangan positif dari program tersebut.

Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan pembenahan agar pelaksanaan program semakin efektif dan mampu memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja di sektor industri.

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update