Senin, 26 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu dan Risikonya

✍️ Elsa Novitasari 🕒 15 Oct 2026 👁️ 10x dibaca
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu dan Risikonya
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu dan Risikonya Foto: Istimewa

InfoNasabah.com - Nilai tukar rupiah kian mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026). Pelemahan ini dipicu inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan dan harga minyak dunia yang masih mahal. Menurut ekonom, level tersebut lebih merupakan ambang psikologis pasar ketimbang tanda krisis, sehingga yang perlu dicermati adalah pergerakan rupiah setelahnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di Rp17.938 per dolar AS, melemah 0,20% atau 35 poin. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga terkoreksi 0,28% atau 50 poin, dari Rp17.898 menjadi Rp17.948 per dolar AS. Pada hari yang sama, rupiah sempat menyentuh Rp17.955 per dolar AS, setelah sebelumnya bergerak di kisaran Rp17.500.

Salah satu pemicunya adalah inflasi AS pada September 2026 yang tercatat 3,7% secara tahunan (year on year/YoY), melampaui ekspektasi pasar. Angka ini mendorong perkiraan bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menahan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga menambah tekanan pada rupiah.

Faktor lain datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$100 per barel, yang meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor energi Indonesia. Kombinasi inflasi AS, ekspektasi suku bunga, dan mahalnya minyak membuat rupiah rentan terhadap perubahan sentimen global. Perbaikan kondisi domestik saja dinilai belum cukup untuk menjamin penguatan yang berkelanjutan.

Risiko jika Rp18.000 tertembus

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai peluang rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS sudah cukup besar, mengingat jaraknya yang makin sempit dibandingkan fluktuasi harian pasar valas. Meski begitu, tembusnya level itu tidak otomatis berarti Indonesia dilanda krisis ekonomi. Syafruddin mengatakan, “Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah level tersebut ditembus,” kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, risiko yang lebih serius muncul bila pelemahan rupiah merembet ke pasar obligasi dan menaikkan premi risiko utang pemerintah. Karena itu, kurs perlu dinilai bersama indikator lain, terutama Credit Default Swap (CDS) 5 tahun. Kewaspadaan diperlukan jika CDS melonjak mendekati atau melampaui 100 basis poin (bps), disertai kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke kisaran 7,4%–7,5%. Saat ini, yield SBN 10 tahun berada di 7,17% dan CDS 5 tahun di 92 bps, masih di bawah ambang tersebut.

Peran BI dan proyeksi rupiah

Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas kurs lewat intervensi di pasar spot, offshore non-deliverable forward (NDF), domestic non deliverable forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini dimaksudkan agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas di pasar obligasi.

Syafruddin menilai penguatan rupiah membutuhkan perbaikan sentimen internasional, bukan sekadar dukungan fundamental domestik. “Sentimen yang paling membantu rupiah saat ini bukan satu berita positif, tetapi kombinasi penurunan tekanan global,” tutur Syafruddin.

Hingga akhir 2026, rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Proyeksi dasarnya berada di kisaran Rp17.650–Rp18.150 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp17.850–Rp17.950. Rupiah berpeluang menguat ke Rp17.500–Rp17.650 bila inflasi AS melandai lebih cepat dan modal asing kembali masuk ke pasar SBN. Sebaliknya, rupiah bisa melemah melampaui Rp18.100 jika ekspektasi pengetatan suku bunga The Fed meningkat lagi, harga Brent terus bertahan di atas US$100 per barel, dan arus keluar modal asing membesar.

EN
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update