Sabtu, 31 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Menkes Sebut Indonesia Tak Sanggup Biayai Kesehatan Jika Hanya Fokus pada Pengobatan

✍️ Elsa Novitasari 🕒 30 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam acara KKI, di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (30/10/2026).
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin dalam acara KKI, di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (30/10/2026). Foto: KOMPAS.com/FIRDA JANATI

InfoNasabah.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai Indonesia tidak akan mampu membiayai layanan kesehatan bagi sekitar 280 juta penduduk apabila masih mengandalkan pendekatan kuratif atau pengobatan setelah seseorang jatuh sakit.

Karena itu, pemerintah mulai menggeser strategi pelayanan kesehatan dengan memperkuat pendekatan promotif dan preventif. Salah satu upaya yang dijalankan adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang bertujuan mendorong masyarakat memeriksa kondisi kesehatannya sejak dini.

"Sebagai bankir saya melihat, kalau pendekatan program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu (kuratif ), enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia," kata Budi dalam Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Menurut Budi, pendekatan promotif dan preventif membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan strategi yang berfokus pada pengobatan setelah masyarakat jatuh sakit.

Menkes Bandingkan Belanja Kesehatan Sejumlah Negara

Untuk menjelaskan hubungan antara pembiayaan kesehatan dan hasil pelayanan, Budi membandingkan belanja kesehatan per kapita dengan angka harapan hidup di sejumlah negara.

Ia mencontohkan Amerika Serikat (AS), yang mengalokasikan belanja kesehatan sekitar 11.900 dollar AS per kapita per tahun. Meski pengeluarannya besar, angka harapan hidup penduduk negara tersebut berada di kisaran 79 tahun.

Sebagai perbandingan, Budi menyebut Kuba mengeluarkan belanja kesehatan sekitar 1.900 dollar AS per kapita per tahun, dengan angka harapan hidup yang juga mencapai 79 tahun.

"Saya (sampai bilang kepada) Menteri Kesehatan Amerika Serikat yang dulu, yang namanya Bob Kennedy itu, saya bilang, "Kalau usia 70 tahun, saya akan pindah kewarganegaraan dari warga negara Amerika ke warga negara Panama atau Kuba". Kenapa? Karena Panama dan Kuba rata-rata usia hidupnya sama seperti Amerika, 79 tahun, tapi belanjanya cuma 1.900," beber Budi.

Budi juga membandingkan pembiayaan kesehatan Jepang dan Singapura. Jepang mengalokasikan sekitar 5.500 dollar AS per kapita per tahun dengan angka harapan hidup 84 tahun.

Sementara itu, Singapura mengeluarkan belanja kesehatan sekitar 3.300 dollar AS per kapita per tahun, dengan angka harapan hidup yang sama.

"Singapura, yang sekarang agak enggak sehat karena asapnya banyak, itu usianya 84 sama dengan Jepang, belanjanya 3.300 (dollar AS)," beber dia.

Adapun Malaysia mengalokasikan belanja kesehatan sekitar 430 dollar AS per kapita per tahun. Angka harapan hidup penduduknya disebut mencapai 76 tahun.

Indonesia Perlu Tambah Belanja Kesehatan

Budi menyebut belanja kesehatan Indonesia saat ini baru sekitar 130 dollar AS per kapita per tahun. Sementara itu, angka harapan hidup penduduk Indonesia berada di kisaran 74 tahun.

Menurut perhitungannya, jika ingin menyamai tingkat belanja kesehatan Malaysia, Indonesia perlu menambah alokasi sekitar 300 dollar AS per kapita per tahun.

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta orang, tambahan kebutuhan belanja tersebut diperkirakan mencapai 84 miliar dollar AS. Adapun total belanja kesehatan Indonesia saat ini disebut berada di kisaran Rp640 triliun.

Budi menilai perbandingan tersebut menunjukkan pentingnya strategi pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika masyarakat sudah sakit. Pemerintah, menurutnya, perlu memperkuat upaya menjaga kesehatan masyarakat agar kebutuhan pembiayaan pengobatan dapat ditekan.

"Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak/ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit. Itu kenapa namanya Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan," kata Budi.

Melalui penguatan pendekatan promotif dan preventif, termasuk program CKG, pemerintah berharap masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Upaya tersebut juga diharapkan mendukung keberlanjutan pembiayaan layanan kesehatan nasional.

EN
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update