Hashim Sebut Rp10.000 Triliun Aktivitas Ekonomi Indonesia Belum Tercatat
InfoNasabah.com - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo memperkirakan sekitar Rp10.000 triliun aktivitas ekonomi di Indonesia belum masuk pencatatan resmi. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu potensi yang dapat dioptimalkan untuk memperluas basis penerimaan negara.
Hashim menyampaikan perkiraan itu dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin Indonesia. Ia merujuk data Bank Dunia yang memperkirakan sekitar 35%-40% kegiatan ekonomi di Indonesia belum tercatat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat nilai produk domestik bruto (PDB) resmi belum sepenuhnya menggambarkan keseluruhan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Kalau PDB kita tercatat Rp25.000 triliun, itu diakui oleh IMF, Bank Dunia dan Bank Indonesia dan pemerintah kita. Ternyata ekonomi kita jauh lebih besar. Menurut Bank Dunia, kurang lebih 35%-40% kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat," ujar Hashim dalam Rapimnas Kadin Indonesia.
Berdasarkan perkiraan tersebut, Hashim menyebut nilai aktivitas ekonomi yang belum tercatat mencapai sekitar Rp10.000 triliun.
"Dan ternyata ekonomi kita 30%-40% tidak tercatat. Itu berarti ada kurang lebih Rp10 ribu triliun yang tidak tercatat," katanya.
Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi yang belum tercatat tidak seluruhnya berkaitan dengan kegiatan ilegal. Sebagian, menurut Hashim, berasal dari transaksi jasa perorangan dan usaha kecil yang dilakukan secara tunai tanpa kuitansi atau pencatatan perpajakan.
Hashim mencontohkan jasa tukang cukur yang datang ke rumah dan menerima pembayaran secara langsung. Ia menyebut transaksi seperti itu tidak disertai bukti pembayaran sehingga PPN tidak dipungut.
"Saya biasanya tukang rambut datang ke apartemen saya sekali sebulan. Dia charge fee, upah. Dan upah itu saya bayar tanpa kuitansi. Dan karena tanpa kuitansi, PPN 11% tidak dipungut," ujar Hashim.
Ia juga menyinggung transaksi jasa pijat, warung makan, dan salon kecantikan yang menurutnya banyak dilakukan secara tunai tanpa bukti pembayaran.
"Seberapa banyak transaksi seperti dilakukan oleh Anton dan Yanti. Kali ratusan juta dan sebagian-sebagian jumlahnya termasuk mungkin warung tegal, beauty salon, tidak ada semua transaksi itu berupa tunai," jelasnya.
Hashim Bandingkan Rasio Penerimaan Negara dengan Negara Lain
Hashim mengaitkan besarnya aktivitas ekonomi yang belum tercatat dengan rasio penerimaan negara terhadap PDB. Ia menyebut rasio penerimaan yang mencakup pajak, cukai, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) berada di kisaran 12%.
