Krisis Fiskal Prancis Jadi Cermin Bagi AS: Bunga Utang Kini Telan 14 Persen Anggaran Federal
InfoNasabah.com - Washington menghadapi risiko tekanan fiskal yang kian serius akibat utang yang membengkak, defisit yang lebar, dan beban bunga yang terus naik. Para pengamat menilai kondisi ini mirip dengan masalah anggaran yang kini menjerat Prancis, meski AS punya bekal ekonomi yang lebih kuat untuk bertahan. Hal ini diberitakan CNN International pada Rabu (21/10/2026).
Utang pemerintah AS disebut mencapai sekitar 32 triliun dollar AS atau Rp 576 kuadriliun. Defisit anggarannya sekitar 2 triliun dollar AS atau Rp 36 kuadriliun. Adapun biaya bunga utang sudah menembus 1 triliun dollar AS atau Rp 18 kuadriliun per tahun, setara sekitar 14 persen dari total anggaran federal.
Para pakar mengingatkan agar persoalan ini tidak dibiarkan berlarut. “Situasinya telah mencapai titik di mana masalah ini tidak bisa lagi diabaikan,” ujar Peter Taylor-Gooby, profesor kebijakan sosial di University of Kent, seperti dikutip CNN International, Rabu (21/10/2026).
“Jika terus diabaikan, kita akan menghadapi krisis yang serius,” tambahnya.
Bercermin dari Prancis
Prancis menjadi contoh nyata tekanan tersebut. Beban utang negara itu sekitar 119 persen dari produk domestik bruto (PDB), hampir dua kali lipat batas acuan Uni Eropa, sementara defisit anggarannya mencapai 5,4 persen dari PDB.
Pemerintah di Paris pun terjepit. Menaikkan pajak atau memangkas belanja sama-sama berisiko memancing penolakan publik, apalagi peta politik dalam negeri sedang terbelah. Akibatnya, upaya menyeimbangkan anggaran sulit dilakukan tanpa memperbesar ketegangan sosial.
Bantalan Ekonomi AS
Meski begitu, AS dinilai lebih tahan banting ketimbang banyak negara Barat. Status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia menjadi modal terbesar. Di saat pasar bergejolak, investor juga cenderung memburu obligasi pemerintah AS (Treasuries) sebagai aset aman, sehingga ongkos pembiayaan utang relatif terjaga.
Skala dan keragaman ekonomi AS turut menjadi penyangga. Gelombang investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) disebut mampu menopang pertumbuhan ketika sektor lain melambat.
Hal itu ditegaskan kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi. “Prancis dan Inggris berada dalam posisi yang cukup mirip,” kata kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi.
“Namun, di Amerika Serikat, kontribusi AI terhadap pertumbuhan ekonomi membuat negara ini lebih mampu mengelola utangnya,” tambahnya.
Namun, Zandi menegaskan bahwa posisi yang lebih kuat bukan alasan untuk menunda pembenahan. “Jika pertumbuhan ekonomi melambat sementara biaya bunga tetap tinggi, beban pembayaran utang dapat semakin menekan anggaran federal,” ujarnya lagi.
Bila pertumbuhan melemah dan bunga tetap tinggi, ruang gerak fiskal pemerintah akan menyempit. Washington pun bisa makin kesulitan membagi anggaran antara membayar kewajiban utang dan membiayai program-program negara.
Ancaman Debt Ceiling
Salah satu risiko yang paling disorot di AS adalah batas utang atau debt ceiling. Kongres harus menyepakati kenaikan batas tersebut agar pemerintah tetap bisa membayar kewajibannya. Jika terjadi kebuntuan politik, ruang pembayaran bisa habis, padahal secara ekonomi AS sebenarnya mampu melunasi utangnya.
Zandi bahkan membayangkan kebuntuan itu bisa muncul dalam waktu dekat. “Kita bisa membayangkan skenario di mana batas utang terlampaui menjelang perayaan Halloween tahun depan,” ujar Zandi.
Jika skenario itu terjadi, pasar keuangan AS berpotensi bergejolak hebat. Keraguan atas kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban dapat menggerus kepercayaan investor dan menambah beban bagi perekonomian.
Eropa Punya Peredam
Di sisi lain, masalah Prancis belum tentu menular ke seluruh kawasan Eropa. Bank Sentral Eropa memiliki instrumen untuk meredam gejolak di pasar obligasi bila diperlukan, dan sejumlah negara Eropa lain mencatat defisit yang lebih rendah. Karena itu, risiko utama Prancis lebih berkaitan dengan anggaran dan kebuntuan politik di dalam negeri.
Kesimpulan
AS belum tentu mengalami krisis seperti Prancis. Namun, utang yang melonjak, bunga yang tinggi, dan polarisasi politik tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi Washington agar tekanan fiskal tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
