Senin, 26 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

JLL Ungkap 3 Peluang Investasi Properti Indonesia di Luar Jakarta

✍️ Elsa Novitasari 🕒 20 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Foto udara kawasan perumahan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (13/9/2026). Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat pada triwulan II 2026 harga rumah baru di Kota Balikpapan mengalami kenaikan dengan indeks harga properti residensial (IHPR) di angka 107,58 atau tumbuh 1,19 persen dari tahun sebelumnya karena dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Foto udara kawasan perumahan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (13/9/2026). Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat pada triwulan II 2026 harga rumah baru di Kota Balikpapan mengalami kenaikan dengan indeks harga properti residensial (IHPR) di angka 107,58 atau tumbuh 1,19 persen dari tahun sebelumnya karena dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja. Foto: ANTARA FOTO/Angga Palguna/hma

InfoNasabah.com - Peluang investasi sektor properti di Indonesia semakin terbuka di luar Jakarta, seiring pembangunan infrastruktur, diversifikasi industri, dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Jawa Tengah, khususnya Batang, Kendal, dan Semarang, menjadi salah satu wilayah yang berpotensi berkembang sejalan dengan pertumbuhan aktivitas manufaktur dan peningkatan konektivitas ekonomi.

Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan, perkembangan pasar properti nasional kini tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga perubahan pola aktivitas ekonomi dan munculnya sektor-sektor baru di berbagai wilayah.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Dalam laporan Planning for a Multipolar World: Real Estate Strategies Across Southeast Asia in 2026 and Beyond, JLL mengidentifikasi tiga peluang utama investasi properti, yakni diversifikasi manufaktur, pengembangan pusat data dan infrastruktur digital, serta optimalisasi dan perubahan fungsi bangunan.

Diversifikasi manufaktur membuka peluang kawasan industri

Sektor industri dan logistik menjadi salah satu area yang berpotensi memperoleh manfaat dari perubahan rantai pasok global dan peningkatan konektivitas antarkoridor ekonomi. Tren tersebut membuka peluang pengembangan kawasan industri, masuknya investasi institusional, serta relokasi dan ekspansi perusahaan.

Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang patut dicermati. Kawasan Batang, Kendal, dan Semarang berpotensi berkembang seiring dukungan infrastruktur dan peningkatan aktivitas manufaktur.

Perkembangan tersebut turut memperluas pilihan lokasi bagi perusahaan yang membutuhkan akses ke kawasan industri, jaringan logistik, dan pusat kegiatan ekonomi. Bagi investor properti, prospek kawasan tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dan terbentuknya ekosistem industri yang mendukung kegiatan usaha.

Kebutuhan pusat data mendorong investasi aset alternatif

Peluang berikutnya berasal dari meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), investasi komputasi awan (cloud computing), dan kebutuhan penyimpanan data di dalam negeri mendorong permintaan terhadap fasilitas pusat data.

Tren tersebut membuka peluang diversifikasi investasi ke aset alternatif, terutama di lokasi yang memiliki dukungan infrastruktur dan memenuhi kebutuhan operasional pusat data.

Berbeda dari aset properti konvensional, pengembangan pusat data memerlukan pertimbangan khusus, termasuk ketersediaan pasokan listrik, konektivitas jaringan, dan kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, pemilihan lokasi menjadi faktor penting dalam menilai potensi investasi pada sektor ini.

Optimalisasi gedung lama menjadi perhatian

Selain kawasan industri dan pusat data, JLL melihat peluang pada optimalisasi bangunan perkantoran dan ritel yang telah berusia tua, khususnya di Jakarta.

Perubahan kebutuhan pasar mendorong pemilik aset untuk meningkatkan kualitas bangunan atau mempertimbangkan perubahan fungsi agar tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna. Strategi tersebut dapat menjadi alternatif untuk mempertahankan daya saing aset di tengah perubahan preferensi penyewa dan standar kualitas properti.

Optimalisasi bangunan juga menuntut pemilik aset untuk mengevaluasi kondisi fisik, efisiensi operasional, dan kesesuaian fungsi bangunan dengan permintaan pasar. Dengan demikian, strategi investasi tidak selalu harus berfokus pada pembangunan properti baru, tetapi juga dapat diarahkan pada peningkatan nilai aset yang sudah tersedia.

Infrastruktur memperluas pusat pertumbuhan ekonomi

Pembangunan infrastruktur turut menjadi faktor yang memengaruhi persebaran peluang investasi properti di Indonesia. JLL menyoroti pengembangan fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, serta pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarkawasan.

Peningkatan konektivitas dapat mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang, sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan aktivitas industri di luar pusat ekonomi utama. Meski demikian, dampaknya terhadap pasar properti akan bergantung pada realisasi proyek, keterhubungan dengan kawasan ekonomi, dan perkembangan permintaan di masing-masing lokasi.

Country CEO & Southeast Asia JLL Michael Glancy mengatakan, pemusatan aktivitas bisnis dan peralihan menuju properti berkualitas tinggi masih menjadi tren pasar. Namun, kebijakan desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan juga membuka peluang pertumbuhan baru.

Menurut dia, perkembangan tersebut perlu dicermati seiring perubahan kebutuhan ruang kerja, lokasi bisnis, dan kawasan ekonomi di Asia Tenggara.

Investor perlu lebih selektif memilih lokasi dan aset

Di tengah perubahan pasar, JLL menilai pengguna dan investor properti perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar lokasi geografis. Konektivitas dengan koridor ekonomi, kebutuhan operasional, kualitas ruang kerja, serta penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) menjadi faktor yang semakin relevan.

Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL Dr Yang Liang Chua mengatakan, Indonesia masih menjadi tujuan investasi properti, tetapi pasar semakin selektif dalam menentukan lokasi dan jenis aset.

“Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” ujar Yang.

JLL menilai prospek properti Indonesia ke depan akan dipengaruhi oleh keterhubungan lokasi dengan jaringan infrastruktur, koridor ekonomi, ekosistem industri, dan kebutuhan perekonomian yang terus berkembang.

Dengan dinamika tersebut, peluang investasi tidak hanya bertumpu pada pasar Jakarta. Diversifikasi manufaktur, kebutuhan pusat data, serta optimalisasi bangunan eksisting dapat menjadi pertimbangan bagi investor dalam menyusun strategi portofolio properti, dengan tetap memperhitungkan karakteristik dan risiko setiap aset.

EN
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update