Ekonomi Inggris Tumbuh 0,1% pada Agustus 2026, Kalahkan Perkiraan Ekonom
InfoNasabah.com - Perekonomian Inggris tumbuh 0,1% pada Agustus 2026, melampaui perkiraan para ekonom yang memprediksi kontraksi. Pertumbuhan ditopang sektor produksi, sementara sektor jasa dan konstruksi tampil lemah. Meski begitu, laju ini melambat dibandingkan pertumbuhan 0,4% secara bulanan pada Juni dan Juli.
Dalam survei sebelumnya, para ekonom memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Inggris menyusut 0,1% pada periode Juli hingga Agustus. Melansir CNBC, Kamis (5/10/2026), Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics/ONS) melaporkan sektor produksi tumbuh 0,8%, sektor jasa stagnan tanpa pertumbuhan, dan sektor konstruksi menyusut 0,2%.
Secara tahunan, PDB Inggris naik 2,1% pada Agustus, di atas ekspektasi ekonom sebesar 1,7%. ONS menyebut angka itu sebagai pertumbuhan tahunan tertinggi sejak Agustus 2022. Usai data dirilis, pound sterling menguat 0,4% terhadap dolar AS, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah (gilts) turun di berbagai tenor. Imbal hasil gilts acuan tenor 10 tahun turun 9 basis poin ke level 5,3364%.
Sebagai negara pengimpor energi bersih, Inggris sedang menghadapi krisis biaya hidup akibat inflasi yang sulit turun dan lonjakan biaya energi pascaperang Rusia-Ukraina dan perang Iran. Di tengah kondisi itu, pemerintah akan mengumumkan anggaran musim gugur (Autumn Budget) akhir bulan ini. Pemerintah dituntut tetap mematuhi aturan fiskal warisan pemerintahan sebelumnya untuk mengendalikan utang publik, sekaligus memenuhi janji meringankan beban biaya hidup masyarakat.
Tekanan fiskal jelang anggaran perdana
Para analis menilai perlambatan ekonomi menambah tekanan bagi Menteri Keuangan Inggris John Healey menjelang penyampaian anggaran pertamanya pada 28 Oktober. Joe Nellis, Kepala Riset Ekonomi Firma Akuntansi MHA, menyebut perlambatan tersebut akan mempersempit fiscal headroom atau ruang fiskal Healey, yakni keleluasaan pemerintah menaikkan belanja atau memangkas pajak. “Meski pertumbuhan ekonomi yang berlanjut seharusnya memberikan dukungan terhadap penerimaan pajak, perekonomian masih rapuh. Kenaikan biaya bunga utang telah sangat membatasi ruang fiskal, sementara biaya pinjaman pemerintah jangka panjang tetap berada pada level yang sangat tinggi,” ujarnya.
Nellis menambahkan, setiap keputusan menaikkan pajak demi menyeimbangkan anggaran “mengandung risiko yang cukup besar” karena dapat melemahkan belanja konsumen, menggerus kepercayaan, dan menghambat investasi perusahaan. Di sisi lain, komitmen belanja besar tanpa sumber pendanaan yang jelas dapat mengusik pasar keuangan dan mendorong biaya pinjaman pemerintah semakin tinggi.
Scott Gardner, Ahli Strategi Investasi di J.P. Morgan Personal Investing, menilai prospek ekonomi sisa tahun ini masih tidak pasti, dengan tantangan berat berupa anggaran musim gugur yang akan datang. Ia mengakui pertumbuhan yang berlanjut di tengah tantangan global merupakan perkembangan positif. “Belum jelas berapa banyak ruang fiskal yang tersisa, mengingat biaya pembayaran utang Inggris meningkat selama setahun terakhir. Banyak pihak akan menanti dengan cemas pengumuman yang akan disampaikan Menteri Keuangan,” ujarnya.
Pandangan yang lebih optimistis datang dari Sanjay Raja, Kepala Ekonom Inggris di Deutsche Bank. “Sejauh ini, kami belum melihat perubahan arah kebijakan yang drastis, tetapi ada tanda-tanda bahwa mesin perekonomian Inggris mulai melambat setelah tumbuh sangat pesat pada paruh pertama tahun ini,” ujarnya. Ia mencatat sektor jasa yang berorientasi pada konsumen, konstruksi, dan teknologi informasi (TI) sama-sama turun dibandingkan bulan sebelumnya.
