Downgrade Lifestyle Jadi Tren? Kisah Amel dan Hani Menghemat Pengeluaran di Tengah Biaya Hidup Naik
InfoNasabah.icom - Tekanan biaya hidup mendorong sebagian pekerja swasta mengubah pola konsumsi dan menjalani gaya hidup yang lebih sederhana. Langkah yang dikenal sebagai downgrade lifestyle ini dilakukan untuk mengendalikan pengeluaran sekaligus meningkatkan tabungan demi kebutuhan masa depan.
Amel (28) dan Hani (25) merupakan dua pekerja yang mulai membatasi kebiasaan konsumtif. Keduanya memilih lebih cermat dalam membelanjakan uang, mulai dari mengurangi aktivitas di tempat mahal hingga memasak sendiri. Menurut Financial Planner dari Finante, Maryadi Santana, perubahan gaya hidup tersebut tidak selalu menandakan kondisi keuangan seseorang sedang memburuk.
Selama ini, penggunaan kendaraan mewah, pakaian bermerek, perhiasan, serta kebiasaan makan di restoran mahal kerap dikaitkan dengan status sosial. Keinginan untuk terlihat mampu di mata orang lain bahkan bisa membuat seseorang mempertahankan pengeluaran yang tidak sebanding dengan pendapatannya. Dalam situasi tertentu, gengsi tersebut berujung pada kebiasaan berutang demi membiayai gaya hidup.
Amel Beralih dari Gaya Hidup Konsumtif ke Menabung
Bagi Amel, perubahan pola hidup turut mengubah cara pandangnya terhadap gengsi. Jika sebelumnya pengeluaran untuk bersenang-senang menjadi bagian penting dari gaya hidup, kini ia lebih memilih mengutamakan kebutuhan dan persiapan keuangan.
“Dulu kan mempertahankan gaya hidup dengan menghaburkan-hamburkan uang jadi gengsi tersendiri, biar kelihatan keren, mampu, sekarang mah udah enggak sih,” tutur dia kepada Kompas.com, Sabtu (17/10/2026).
Saat menerima gaji sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan, Amel membagi penghasilannya untuk membantu orangtua, memenuhi kebutuhan pribadi, dan membiayai kegiatan konsumtif. Pengeluaran tersebut antara lain untuk menikmati kopi di kafe mahal, berbelanja di mal, dan makan di restoran mewah.
Kebiasaan itu membuat uang yang diterimanya kerap habis sebelum memasuki periode gajian berikutnya. Kini, ketika penghasilannya mulai meningkat, Amel justru memilih menjalani hidup dengan lebih hemat.
“Pilih downgrade atau lebih sederhana karena biaya hidup semakin mahal. Belanja bulanan aja Rp 2,5 juta, belum listrik, air, dan lain-lain,” ungkap dia.
Setelah menikah, Amel berbagi tanggung jawab biaya rumah tangga dengan pasangannya. Meski kebutuhan ditanggung bersama, ia tetap berupaya menyisihkan uang untuk kepentingan jangka panjang.
“Kalau dulu setiap gajian hal utama harus sisihin buat jalan-jalan, sekarang enggak, paling awal itu buat tabungan dulu,” ungkap dia.
Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran prioritas Amel. Jika sebelumnya jalan-jalan menjadi salah satu tujuan utama setelah menerima gaji, sekarang tabungan ditempatkan di urutan awal sebelum pengeluaran lain dilakukan.
Hani Menghemat Pengeluaran dengan Memasak di Rumah
Strategi penghematan juga diterapkan Hani, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ia mulai mengurangi kebiasaan membeli makanan dan minuman saat bekerja, lalu menggantinya dengan memasak sendiri di rumah.
“Contohnya kayak makan. Itu tuh kalau sebelumnya aku kayak sehari bisa mampir ke Family Mart gitu lah. Terus nongkrong di situ garap-garap (kerjaan), jajan gitu kan. Tapi sekarang tuh kayak lebih dipikir-pikir lagi, kayak mending aku masak aja,” ungkap dia.
Hani menyadari bahwa memasak membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Ia juga perlu bangun lebih pagi agar dapat menyiapkan makanan. Namun, pengorbanan tersebut dinilai sepadan dengan penghematan yang diperoleh.
Sebelumnya, membeli makanan di kafe atau supermarket bisa menghabiskan sekitar Rp70.000 hingga Rp80.000 setiap hari. Sementara itu, biaya memasak sendiri di rumah diperkirakan sekitar Rp20.000 per hari.
Dengan demikian, Hani dapat menghemat sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000 sehari. Uang yang tidak lagi digunakan untuk membeli makanan di luar itu bisa dialihkan ke tabungan atau kebutuhan lainnya.
Pengalaman Hani memperlihatkan bahwa penghematan tidak selalu harus dimulai dari keputusan besar. Penyesuaian rutinitas harian, seperti menyiapkan makanan sendiri, dapat membantu mengurangi pengeluaran secara bertahap.
Financial Planner: Downgrade Lifestyle Tidak Selalu Berarti Keuangan Memburuk
Financial Planner dari Finante, Maryadi Santana, menjelaskan bahwa keputusan menurunkan gaya hidup tidak otomatis menunjukkan seseorang sedang mengalami kesulitan finansial. Sebagian orang justru memilih hidup lebih sederhana meskipun masih memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, karena ingin mempersiapkan kebutuhan pada masa mendatang.
Namun, kenaikan biaya hidup di kota-kota besar, terutama Jakarta, juga dapat menekan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan seperti itu, mengurangi pembelian barang yang tidak mendesak menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan keuangan.
“Kebutuhan sekunder, seperti membeli barang-barang yang tidak urgent atau mengganti kebutuhan dengan harga yang masuk dalam batas pendapatan,” jelas Maryadi saat dihubungi, Sabtu.
Maryadi menyarankan masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah bawah, menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang tersedia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyusun kembali anggaran bulanan agar pembagian uang untuk setiap kebutuhan lebih terukur.
Pencatatan anggaran membantu seseorang mengetahui pos pengeluaran yang paling banyak menyerap uang, sekaligus menentukan bagian yang masih bisa dikurangi. Dengan perencanaan tersebut, kebutuhan pokok tetap dapat dipenuhi tanpa mengabaikan tujuan keuangan jangka panjang.
Pada akhirnya, downgrade lifestyle bukan sekadar mengurangi kesenangan atau membeli barang dengan harga lebih murah. Perubahan ini dapat menjadi upaya mengatur prioritas agar pengeluaran tetap terkendali, terutama ketika biaya hidup terus meningkat. Pengalaman Amel dan Hani menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana, seperti membatasi belanja konsumtif dan memasak di rumah, bisa menjadi bagian dari strategi membangun tabungan.
