Dagang RI-Rusia Naik 21,6 Persen ke 4,84 Miliar Dolar AS, Ratifikasi I-EAEU FTA Hampir Rampung
InfoNasabah.com - Indonesia dan Rusia menyepakati penguatan kerja sama ekonomi di bidang pertanian, teknologi, industri, dan pengembangan rantai pasok. Kesepakatan itu lahir dari pertemuan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov di Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026). Kedua pihak juga membahas perluasan kemitraan pelaku usaha, peningkatan kapasitas industri nasional, serta kolaborasi di sektor perkapalan dan kedirgantaraan.
Pertemuan tersebut melanjutkan pembicaraan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada September 2026, sekaligus menindaklanjuti hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-14 RI-Rusia di Kazan pada Mei 2026. Berpedoman pada arahan Presiden, Airlangga mendorong kerja sama yang mencakup kemitraan antarpelaku usaha, perluasan peluang investasi, kerja sama teknologi, dan pengembangan kapasitas industri.
“Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi, memperluas kemitraan antarpelaku usaha, serta memastikan berbagai peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah-langkah konkret yang memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Menko Airlangga dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu.
Perdagangan Naik 21,6 Persen pada 2025
Nilai perdagangan kedua negara sepanjang 2025 mencapai 4,84 miliar dollar AS, tumbuh sekitar 21,6 persen dari 3,98 miliar dollar AS pada 2024. Komoditas yang berperan penting dalam hubungan dagang ini antara lain minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk.
Delegasi Bisnis Rusia di TEI 2026
Airlangga menyambut kedatangan delegasi bisnis Rusia di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD. Ia memandang pameran ini sebagai momentum mempererat hubungan antarpelaku usaha dan membuka peluang kemitraan komersial baru. Kehadiran delegasi Rusia juga merupakan tindak lanjut peran Indonesia sebagai negara mitra di pameran INNOPROM, Yekaterinburg, pada Juli 2026. Pertemuan bisnis selama TEI diharapkan mendorong diversifikasi perdagangan serta memperluas kerja sama investasi dan industri.
Dari sisi Rusia, Manturov menekankan bahwa hubungan antarpelaku usaha adalah faktor utama dalam memperluas kerja sama perdagangan dan ekonomi, dengan membangun kontak bisnis sebagai kuncinya.
“Perusahaan-perusahaan kami menghadiri pertemuan business-to-business (B2B) dengan mitra potensial Indonesia, serta forum bisnis dengan sesi tematik mengenai perdagangan, investasi, dan kerja sama industri,” ujar DPM Manturov.
Ratifikasi I-EAEU FTA Mendekati Tahap Akhir
Pembahasan turut menyentuh perkembangan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Perjanjian ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur, serta mempererat hubungan dagang dengan negara anggota EAEU.
Proses ratifikasi disebut hampir tuntas. Kedua negara berharap seluruh prosedur selesai sebelum akhir 2026 agar perjanjian segera berlaku efektif (entry into force/EIF) dan bermanfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara.
Pejabat yang Mendampingi
Pertemuan turut dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi serta Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan.
