Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Biaya Hidup Makin Mahal, Generasi Muda Hadapi Tekanan Upah dan Kebutuhan Dasar

✍️ Elsa Novitasari 🕒 26 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua.
Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua. Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO

InfoNasabah.com - Tekanan biaya hidup yang dihadapi generasi muda memicu perdebatan mengenai gaya hidup, etos kerja, dan kemampuan mengelola keuangan. Sebagian pihak menilai anak muda perlu mengurangi pengeluaran dan bekerja lebih keras. Namun, persoalan ekonomi kelompok ini juga dipengaruhi faktor struktural, mulai dari tingkat upah hingga keterjangkauan kebutuhan dasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah buruh meningkat dari sekitar Rp3,27 juta per bulan pada Agustus 2024 menjadi Rp3,33 juta pada Agustus 2025. Kenaikan sekitar 1,94 persen tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2025 yang mencapai 2,31 persen.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan nominal belum tentu diikuti kenaikan daya beli apabila pertumbuhan upah tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.

Bagi pekerja muda, penghasilan bulanan harus dialokasikan untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, komunikasi, dan kesehatan. Sebagian juga perlu membantu membiayai pendidikan adik atau memenuhi kebutuhan orang tua.

Akibatnya, penghasilan yang tampak cukup secara nominal belum tentu menyisakan ruang untuk menabung, meningkatkan keterampilan, atau mempersiapkan masa depan.

Survei Ungkap Tekanan Keuangan Anak Muda

Tekanan ekonomi generasi muda juga tergambar dalam survei Muda Bicara ID pada Oktober 2026. Sebanyak 40,9 persen responden muda menyatakan pendapatan atau uang saku mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Survei yang sama mencatat 61,5 persen responden pernah menggunakan pinjaman digital atau layanan paylater dalam enam bulan terakhir. Sebagian besar responden memanfaatkan layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian anak muda menghadapi persoalan kecukupan pendapatan, bukan semata-mata kesulitan mengendalikan konsumsi. Ketika penghasilan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, pinjaman dapat menjadi pilihan untuk menutup kekurangan. Namun, penggunaannya juga berpotensi menambah beban keuangan jika tidak dikelola secara hati-hati.

Tekanan finansial dapat semakin besar bagi kelompok sandwich generation, yaitu mereka yang membantu memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus membiayai kebutuhan sendiri dan, dalam sejumlah kasus, anak-anak mereka.

Dalam kondisi tersebut, sebagian pendapatan telah dialokasikan untuk kebutuhan keluarga. Ruang untuk menabung, mengembangkan keterampilan, dan membangun kemandirian finansial pun menjadi lebih terbatas.

Tanggung Jawab Pribadi dan Faktor Struktural

Pengelolaan keuangan pribadi tetap penting untuk menghadapi tekanan biaya hidup. Generasi muda perlu menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, berhati-hati menggunakan pinjaman, serta meningkatkan keterampilan untuk memperluas peluang kerja.

Meski demikian, tanggung jawab individu tidak menghilangkan peran pemerintah dalam menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Penanganan persoalan biaya hidup membutuhkan langkah yang lebih luas, antara lain memperluas kesempatan kerja berkualitas, memperkuat perlindungan bagi pekerja informal, serta meningkatkan akses terhadap transportasi umum, hunian layak, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Dunia usaha juga memiliki peran dalam menyediakan upah yang layak dan lingkungan kerja yang sehat. Dengan demikian, perbaikan kondisi ekonomi generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya perubahan perilaku konsumsi individu.

Keluhan Generasi Muda Jadi Masukan Kebijakan

Keluhan mengenai mahalnya biaya hidup dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan publik. Aspirasi generasi muda dapat membantu mengidentifikasi hambatan ekonomi yang mereka hadapi dan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah penanganan.

Ruang dialog antara pemerintah dan generasi muda juga perlu diperluas agar persoalan tersebut dapat dibahas secara terbuka dan substantif.

Perdebatan mengenai gaya hidup, etos kerja, dan kemampuan mengatur keuangan berisiko mengesampingkan persoalan yang lebih luas, seperti kecukupan upah, kualitas lapangan kerja, keterjangkauan kebutuhan pokok, dan terbatasnya perlindungan sosial.

Karena itu, persoalan biaya hidup generasi muda perlu ditangani melalui pendekatan yang seimbang. Pengelolaan keuangan yang bijak tetap diperlukan, tetapi harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan keterjangkauan kebutuhan dasar.

Tuntutan agar biaya hidup lebih terjangkau tidak semestinya langsung disederhanakan sebagai persoalan gaya hidup. Evaluasi terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan publik diperlukan agar solusi yang dirumuskan dapat menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda.

EN
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update